Trump dan Netanyahu Memasuki Pekan Ketiga Perang dengan Sikap yang Berbeda

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah sering kali melibatkan berbagai kepentingan politik yang kompleks, dan hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi sorotan utama. Meskipun keduanya terlihat bersatu dalam menghadapi Iran, perbedaan dalam pendekatan dan tujuan strategi militer mereka mulai terlihat setelah pertempuran memasuki pekan ketiga. Ketidakselarasan ini menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan aliansi yang telah terjalin erat ini.
Perbedaan Strategis antara Trump dan Netanyahu
Perbedaan paling mencolok antara Trump dan Netanyahu terlihat dalam tujuan akhir dari operasi militer yang mereka laksanakan. Sementara Netanyahu berambisi untuk menghancurkan infrastruktur Iran secara menyeluruh, Trump tampaknya lebih berhati-hati dalam pendekatannya. Sebuah instruksi tegas dikeluarkan oleh Trump pada Kamis, 19 Maret 2026, yang mengultimatum Netanyahu untuk tidak menyerang fasilitas gas yang dimiliki oleh Teheran.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Israel sebelumnya telah melancarkan serangan yang memicu reaksi dari Iran, yang kemudian menyerang fasilitas energi penting di Qatar. Serangan tersebut berdampak pada lonjakan harga energi global, yang menjadi perhatian serius bagi Washington.
Kekhawatiran AS terkait Operasi Militer Israel
Amerika Serikat juga menunjukkan kekhawatiran ketika militer Israel menyerang depot bahan bakar di pinggiran Teheran. Serangan ini menghasilkan kepulan asap beracun yang mengancam kesehatan sekitar sepuluh juta penduduk ibu kota Iran. Hal ini menunjukkan bahwa strategi militer yang agresif dapat membawa konsekuensi yang tidak diinginkan, tidak hanya untuk Iran tetapi juga untuk kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
Perbedaan Pendekatan Politik
Selain dalam aspek militer, perbedaan juga muncul dalam pendekatan politik antara kedua pemimpin. Netanyahu menginginkan eliminasi total terhadap pejabat tinggi Iran, sementara Trump tampak lebih terbuka untuk melakukan negosiasi dengan beberapa faksi di dalam pemerintahan Iran. Hal ini menciptakan ketidakselarasan dalam strategi yang diambil oleh kedua negara.
Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mencatat perbedaan tujuan ini dalam sebuah rapat dengar pendapat di kongres, menegaskan bahwa rencana yang digariskan oleh Trump tidak sejalan dengan tujuan agresif yang ditetapkan oleh Israel.
Usaha Netanyahu untuk Menjaga Sinergi
Di tengah ketegangan ini, Netanyahu berusaha untuk menutupi perbedaan dengan mengklaim bahwa kolaborasi antara AS dan Israel tetap solid. Dalam sebuah konferensi pers, ia memuji tingkat koordinasi yang tinggi antara kedua negara, menyatakan, “Tidak ada dua pemimpin yang lebih terkoordinasi. Dia pemimpinnya, saya, Anda tahu, sekutunya.”
Implikasi Terhadap Kebijakan Luar Negeri
Para pengamat intelijen melihat bahwa kebijakan luar negeri Trump yang kabur berkontribusi pada ketidakharmonisan ini. Brian Katulis, seorang peneliti senior di Middle East Institute, menjelaskan bahwa Israel memiliki visi yang lebih terarah, dengan fokus pada penggantian rezim di Iran. Sementara itu, Trump terjebak dalam tekanan domestik menjelang pemilihan kongres, yang membuatnya lebih berhati-hati dalam melanjutkan kampanye militer ini.
Situasi ini diperburuk oleh meningkatnya ketidakpuasan publik di Amerika terkait harga bahan bakar yang melonjak dan ketidakpastian ekonomi. Tekanan dari basis pendukung Trump yang loyal pun mulai terasa, sehingga memaksa Presiden untuk mempertimbangkan keputusan yang lebih strategis.
Risiko Kerugian Politisi di Washington
Selain faktor ekonomi domestik, kedekatan Washington dengan negara-negara Teluk yang rentan menjadi sasaran balasan Teheran juga menjadi pertimbangan penting. Katulis memprediksi bahwa Trump mungkin akan memperlambat laju perang untuk melindungi agenda politik dalam negeri, mempertimbangkan risiko kerugian yang dapat terjadi.
Perubahan Paradigma Aliansi Militer
Konflik ini juga menandai perubahan paradigma dalam aliansi militer antara Washington dan Tel Aviv. Berbeda dengan era Perang Irak, di mana AS berusaha menjauhkan Israel dari konflik regional, kini kedua negara tampak bergandeng tangan di medan pertempuran. Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan perubahan dalam dinamika geopolitik di kawasan.
Potensi Saling Menyalahkan di Masa Depan
Yossi Mekelberg, seorang ahli dalam kajian Timur Tengah, memperingatkan bahwa pujian yang dilontarkan oleh kedua pemimpin saat ini bisa cepat berubah menjadi saling tuding jika situasi pertempuran memburuk. “Jika semuanya mulai berjalan sangat buruk, dan kita tahu bahwa Trump bukanlah tipe orang yang basa-basi, maka saling menyalahkan pun dimulai,” tegasnya.
Karakter Fluktuatif Trump dan Dampaknya
Robert Malley, mantan negosiator AS untuk Teheran di era Presiden Joe Biden, menyoroti sifat fluktuatif Trump sebagai elemen yang tidak dapat diprediksi dalam konflik ini. Menurutnya, baik Israel maupun Iran memiliki rencana yang jelas, di mana Tel Aviv ingin menggulingkan rezim, sementara Teheran berfokus pada bertahan hidup dan memanfaatkan dampak yang ditimbulkan oleh perang.
Dengan demikian, ketegangan antara Trump dan Netanyahu dalam konteks perang ini mencerminkan kompleksitas hubungan internasional yang lebih luas dan bagaimana kepentingan nasional dapat saling bertentangan. Terlepas dari upaya untuk mempertahankan aliansi, perbedaan dalam strategi dan tujuan mungkin akan terus mempengaruhi dinamika antara kedua negara dalam waktu dekat.